dikala aku tak sanggup menjerit , pensil dan kertas berpacu dengan jiwa yang terperangkap . Menulis, bersenandung, apalah kata? coba ungkapkan saja.. again. crap!

“Terlalu banyak aturan. Aku ingin dan AKAN melakukannya dengan caraku sendiri.”—penulis.

Aku bukanlah penulis yang tak mengerti kata-kata, bahkan biasanya seorang penulis sehebat William Shakespeare saja menggunakan kata-kata yang individual– hanya dia yang mengerti.
Bahkan jika aku bisa mengungkapkan kepada setiap orang di muka bumi ini untuk mendamaikan perasaan yang saling bertabrakan dan bermusuhan , bahwa “mawar itu merah, violet itu ungu.. bunga kamboja milik eyang ku itu berwarna-warni.. mari kita siram bersama-sama.” maka aku akan mengungkapkannya. Oh, itu hanya joke.

Aku menulis bukan untuk orang lain , aku menulis untuk diriku sendiri , tulisan ini juga yang akan membawa kemana arahku. Aku tak perduli bagaimana cara seseorang mengungkapkan kata-kata, mungkin jiwaku milik seorang sastrawan lepas yang sudah lama tidak berdamai dengan tata cara berbahasa yang baik dan benar. Logisnya, aku tidak lagi mengenal diriku sendiri dengan tulisan yang bukan “aku”.
Tulisanku adalah cerita masa lalu, selalu berjalan dengan masa lalu karena aku orang yang individual, butuh ketenangan sendiri untuk melangkah karena terlalu banyak dramatisasi didalam kehidupanku, membuatku jenuh.
Banyak orang menanggapi karyaku, mereka bilang itu sampah . Yang lainnya bilang ini adalah karya yang akan menjadi sejarah! atau mungkin maksudnya tinggal sejarah? ‘I don’t know whats exactly means’—Joshua A William.
Ada lagi orang yang tidak mengenal dirinya sendiri, kehilangan siapa dirinya, merasa hebat mencoba berulang kali menekuk lututku, bilang itu palsu karena kata-katanya terlalu vulgar. Padahal, aku sendiri sampai sekarang masih tidak mengerti apa arti vulgar itu. Bayangkan saja topeng apalagi yang harus kugunakan untuk menutupi semua kesalahan besar yang dulu pernah kuperbuat. Semua orang merasa dia berhak untuk memutuskan kebenaran dan menghakimi karya yang tak bersalah ini, silahkan tertawakan aku , itu hanya membuatku tertawa melihat kelakuan bodoh mereka. Jadi, aku hanya menertawakan mereka, orang-orang bodoh yang menertawakan orang bodoh seperti aku (bodoh karena tidak mengerti apa itu arti vulgar tadi). Aku hanyalah aku , apakah yang manusia dapat lakukan terhadapku, kawan?

“Mereka bisa memenjarakanku dan membungkamku selama yang mereka mau, tapi selama aku bersama buku, aku tidak akan pernah mati.”—Moh. Hatta

Sementara mereka, terlalu bangga untuk menjalani ‘lakon’nya di dunia ini dengan menggunakan logat kebarat-baratannya yang memang sedang trend masa kini. Buatku sih, norak. Norak untuk hanya meniru apa yang orang bule temukan pertama kali daripada kita (padahal aku hidup ditengah-tengah bule blasteran di Kalimantan).
Norak karena tidak berkarya, norak karena tak dapat menyuarakan kekesalan mereka dalam tulisan, hanya lewat kekerasan dan itu tidak berguna. It’s time to change, right?—Barrack Obama.
Aku memang ketinggalan zaman, tapi aku berkarya kawan!

Menurutku, orang disekelilingku hanya bisa menilai. Tetapi mereka tidak bisa melakukan sesuatu untuk itu. Aku bahkan tak perduli apa penilaian para ‘juri’ tersebut atas karangan hasil karya jiwa bukan hasil karya khayalan seperti yang lain (yang bahkan tidak mengerti apa itu ‘rasa’ dalam menuangkan kebenaran yang terbungkam kedalam sebuah tulisan). Memang sih, dunia ini membutuhkan para kritikus , tetapi bukan hanya menjadi ‘tikus-tikus’ karya sastra seorang wartawan ‘dunia nyata yang terlalu di-dramatisasi’ sepertiku.
Aku merekam. Aku melihat. Aku menuliskan semuanya. Tersimpan banyak makna, bahkan setiap manusia tidak dapat membeli sebuah kenangan. Tidak pernah ada harga atau tawaran yang cukup, bagiku. Kenangan adalah aku. Akulah tempat dimana semua orang tidak menginginkanku sebagai tempatnya kembali, tentunya tidak ada seorang pun yang ingin kembali kepada masa lalunya yang buruk kan?
Nobody gonna stop their way, no one gonna turn back. Life, cannot change, can’t pause, can’t rewind. There’s just ‘Play’ and ‘Stop’.—Joe Jonas
Kenangan bagi seorang penulis amatiran sepertiku pernah mengenalkanku kepada satu hal, namanya harapan. Memberitahuku tentang siapa aku di dunia ini. Dunia yang tidak pernah menjamin, dunia yang tidak pernah menjanjikan. Menyadarkanku secara paksa bahwa didalam dunia ini terdapat dua pilihan. Siapa aku dan akan menjadi siapa aku kelak, apa aku yang kan menarik harapan setiap orang atau harapan kosong yang akan menarikku. Siapa jadi kudanya dan siapa jadi rodanya? (Tentu aku memilih menjadi jokinya, kawan!—Jika aku bisa.) Jadi yang diatas atau yang dibawah? Itulah permainan dunia. Kenangan seorang ‘Aku’ adalah suatu kesatuan dari harmoni. Seperti seorang cenayang dan cawannya. Ia menggulirkan berbagai pertanda hanya dengan meneteskan air hitam dari cawannya. Hidup,berarti jalan terus. Atau mati, berhenti berharap. Kenangan adalah hal termahal untukku di dunia ini. Bahkan lebih mahal dari sepeda bututku itu, itulah aroma kemenangan bagi seorang penulis idiot sepertiku. Sebuah tetapan harga yang patut dibayar untuk sebuah kesalahan. Lagipula, ini theater kehidupan, bukan? Tergantung kita sendiri, memilih untuk menjadi siapa didalam alurnya. Adil, bukan? Didalam dunia yang alurnya maju-mundur ngalor ngidul seperti ini.
Aku tidak pernah membiarkan karyaku dinilai orang (mungkin ini adalah pernyataan yang egois). Karena aku suka, aku suka karya yang egois.
Untukku, guru bahasa Indonesiaku bukannya memupuk semangat juang bagiku, hanya membuatku muak karena begitu banyak cemoohnya, padahal aku, aku hanya ingin berkarya lepas seperti guru ku yang lama, ‘buku’. Terlalu banyak kata salah dan kurang baginya. Tapi buku, buku mengajarkanku bagaimana cara memandang dunia ini lebih luas, bukan hanya menggunakan sebelah mata saja. Sepertinya dari dulu aku memiliki masalah dengan yang namanya guru Bahasa. Tidak pernah menerima.

“Biarlah semua yang menjadi rekaman memori ini terus melayang dan terbuka saja terhadap dunia, jangan kau biarkan berhenti atau kau tutup caraku mengungkapkan dengan tata cara berbahasa yang menurutmu telah disempurnakan dengan baik dan benar, kau mengikatku di kursi kayu itu dengan segala macam aturan.”—penulis.

Biarkan sejenak kuperhitungkan , melihat kembali kepada masa lalu yang suram. Suram karena aku adalah pembicara yang egois. Amarahku dalam tulisan itu sadis, tidak dapat diterima. Pro dan kontra seperti pemerintah zaman sekarang. Karena itu, aku beranggapan terkadang hidupku seperti puisi “Aku” karya Om Chairil Anwar, bait demi bait tak beralur, yang terombang-ambing akan suatu kepastian.
Seorang pengecap cita rasa sastra, itulah aku. Seorang pembicara yang egois , kritikus yang tak ‘bertuan’, menulis untuk kebenaran, harga yang tak dapat dibayar, semua menjadikanku pribadi yang unik, tetapi gagap dalam mencari pernyataan yang benar. ‘Benar’ adalah kata yang tepat untuk seorang anak tidak normal seperti aku, yang hanyalah aku. ‘Benar’ untuk perlakuan sahabatku yang membenciku . ‘Benar’ inilah aku, inilah kenyataan dan aku ‘benar’-benar salah.

–“Aku hanyalah binatang jalang, dari kumpulannya terbuang!”

Terkadang, pernyataan yang egois dariku membuatku lupa, lupa akan siapa aku dulu sebelum aku diidolakan banyak orang seperti sekarang, sebelum aku dikagumi, sebelum aku dicari (karena banyak hutang), sebelum aku memiliki semua (yang hanya membawaku kepada suatu pernyataan lagi, hampa). Tapi, aku menyukai hidupku dengan kenyataannya inilah aku, aku dan kisah, aku dan sejarah, aku dan waktu, aku dan semua yang kumiliki karena ke-‘egoisan’ku dalam menulis. Sehingga akhirnya, aku ditinggalkan.
Aku tak mengenali diriku yang sekarang, aku mencari untuk apa aku hidup, untuk “kau-tahu-siapa”, dialah sahabatku. Dan aku ‘benar’, aku ‘benar’-benar kehilangannya. Karena dia, aku ingin menulis. Karena dia, aku ingin terus mengungkapkan. Karena dia, aku ingin terus bertanya untuk siapa aku menjadi ‘benar’. Karena dia, aku sakit hati dan merasa bersalah untuk telah menjadi seorang ‘idiot’ yang pernah berkata bahwa aku menyesal pernah mengenalnya. Karena dia, aku akhirnya dapat mengatakan dengan jelas, melupakan semua ke’egois’an ku dan memberanikan diri berkata “aku minta maaf”. Bukan suatu yang susah kan? Tetapi entah mengapa dia membuatnya begitu sulit bagiku.

“Aku hidup,
adalah tentang Kalimantan,
adalah tentang persahabatan,
dan penolakan.”—Kira McPhe (–nama samaranku)

Hidup di Kalimantan ini membuatku hidup sebagai pribadi yang keukeuh (dan tentunya semakin egois, dalam tulisan dan perkataanku). Kalimantan, bukanlah tempat yang jauh untuk bercerita, tak terlalu jauh untuk seorang penulis ‘jalanan’ sepertiku. Setiap harinya hanya kepedihan yang mempermainkanku. Hanya menjadi orang yang gagap menuangkan kebenaran dalam tulisannya dan menjadi terlalu takut untuk melawan (seperti melawan pemanasan Global yang sangat menyiksaku saat duduk mencari inspirasi, aku memulai sebuah permulaan yang sinting sampai menjelajahi pelosok daerah terpencil di Kalimantan ini dan entah bagaimana menjadi sangat panas). Dan ketika teman seper-guruan-ku meneriakkan, “Akulah si gagap dari SMA favorit se-Kalimantan Tengah!” Semua itu mempermalukanku.

 “tidak semua yang dapat dilihat itu bernilai, tidak semua yang bernilai itu dapat dilihat , dan tidak semua yang bernilai itu dapat dinilai.”—Albert Einstein.

Permulaanku pun adalah permulaan-Nya yang mampu menilaiku. Dari sekian penolakan aku mencari keberhasilan, seperti ini juga pekikan jiwa terbungkam asa yang hanya tinggal sejengkal dari pikiranku. (Out of my mind—Elvis Preisley).
Awalnya, kuanggap hidupku adalah bencana. Dan selalu akan menjadi seperti itu. Aku tak ingin mengatas-namakan persahabatan diantara kami, lagi. Tak akan. Kukira, dia sahabat terbaikku adalah sahabat yang takkan pernah membuatku kecewa. Lagipula, aku terlalu malu untuk menaklukkan kenyataan dihadapanku sendiri, zaman sekarang ini adalah zaman edan mana ada orang yang tidak pernah mengecewakan orang lain. Iya nggak, kawan?
Begitu pula ketika menyadari tak mudah memulai kata “sahabat” dan mengakhiri kata “kita” meninggalkan kata “aku” dan “kamu”.
“Maafkanlah aku yang tak sempurna dihadapanmu..”
Mungkin hanya itu sebuah ungkapan dari aku yang hanya aku.. Mungkin hanya ini aku mampu.

“Aku dapat tuliskan seratus ribu kata-kata jika engkau mau dan kujelajahi setiap ruang waktumu jika aku mampu.”—Noah Herbert Spencer.

“Katakanlah saja ini permulaannya bahwa kamu adalah kamu dan aku hanyalah aku ,bila kamu denganku jika dan hanya jika kita bersama maka semua akan terasa biasa saja maka kau putuskan untuk menolak ini semua untukku dan untukmu.
Suatu kisah , yang mana telah berakhir. Namun tak pernah kumengerti arahnya mau dibawa kemana.
Aku, dan jika itu kamu , kamu akan melihat aku karena aku sahabatmu . Kemanapun.. engkau melangkah, kau hanya akan kembali, menuju kepada seorang “aku”
dan ketika engkau menyadari kemana arahmu memandang, kau hanya akan memandangku , sengaja atau tidak, karena kita itu berada dalam satu bagian, aku dan kamu sebagai bagian dariku.”

Aku,kamu, dan kita
penulis.

Kata-kata “kita” yang mungkin terlalu rumit sehingga kau memutuskan pergi, menyisakan aku sendiri dengan seribu satu macam motivasi diriku tanpa engkau. Hanya kata-kata yang bijak, tanpa sebuah perbuatan yang bijak,seperti dulu. Karena apa? Karena aku tak pernah melakukannya lagi, karena siapa? Karena kamu telah tinggal didalamku, bagaimana? Bukan seperti ini, kamu telah tinggal didalamku, sulit untuk kulepaskan. Dan karena kamulah aku memutuskan untuk tinggal, dan kamulah memutuskan untuk pergi.
Dan sekarang kudapati, ternyata menjadi “mantan sahabat” itu melelahkan juga. Kuingat dulu tulisan terakhirku , tapi aku tak pernah ingat lagi yang mana point nya,karena ingatanku seperti seorang renesains yang terlalu rumit, bahkan untuk berkata-kata pun aku gagap.
Bermula dari selembar pesan “bodoh” (kuberi nama seperti itu ketika menyadari dampaknya kepada persahabatan kami). Pesan itu pesan singkat yang ternyata tak se-singkat namanya (pesan singkat). Tujuannya saja sudah menolak, tapi aku memutuskan bahwa persahabatan ini tidak akan pernah ‘bercerai’ . Sampai kapan pun itu.
Pesan bodoh yang niatnya kusampaikan kepada sahabatku sepulang sekolah, tetapi karena kekurangan akhlak mulia-ku, kuselipkan kedalam tas sahabatku itu. Hasilnya? Nothing. Pilihan kata yang tepat untuknya , “oh-so-stupid-freaks” (–oh-sangat-kolot-aneh) , hanya itulah yang mampu kuungkapkan, selain ‘maling perasaan’ . Aku kesal kepada sahabat seperti itu yang membuatku tak bisa melepaskan pikiran dan angan kami bersama. Jadi intinya, mengapa aku terlalu dibebani perasaan kecewa , adalah karena aku terlalu dekat kepadanya. Memang, kata-kata yang sungguh menyinggung, tapi inilah kenyataan dan kenyataan itu tidak bisa ku tutupi, sejarah tidak bisa kita hilangkan, dan hanya terjadi sekali dalam seumur hidupku namun membuatku tersiksa selama 1 tahun terakhir.
Siapa lagi kalau bukan Pamela. Dia mungkin tak pernah menyadari seberapa besar pengorbanan seorang sahabatnya ini ,untuknya, selama ini. Yang sekarang sudah tinggalkan kata “dulu” untuk yang pernah ada , “sia-sia” untuk yang telah ada, “percuma” untuk yang akan terjadi padaku dan padanya, untuk “kami” itu hanya tinggal cerita .
Siapa yang tahu kami pernah bertumbuh lama dan layu mengering sia-sia bagaikan pohon jati di Kalimantan (maksudnya , mana mungkin ada pohon jati tumbuh di Kalimantan, kalaupun ada , itu hanyalah persahabatan kami yang unik dan satu-satunya –‘Sejarah yang bersifat empiris’).

Tak tahu apa salah dan dosaku mengapa orang-orang begitu memojokkan aku yang gagap untuk meminta maaf ini (mungkin ini adalah kata ter-egois yang pernah kuungkapkan).
“Crap!” mungkin hanya inilah kata-kata yang tepat untuk orang-orang yang telah menyurutkan tekadku yang mulia ini , yaitu meminta maaf kepada orang yang kutahu dia takkan memaafkanku itu (paling tidak, lebih mulia daripada waktu aku meminta maaf kepada guru Bahasa Indonesia karena ban sepeda butut keluaran 70-nya itu sudah menjadi korban kebiadabanku sewaktu aku masihlah anak ndeso).
‘ourghh.. aku kesal!’—puaskah hati sahabatku jika ia membaca ini? Salahkah aku, jika aku terlalu mencintai arti ‘persahabatan’ kita?
Tapi, semua hal yang terjadi dalam hidupku ini membuatku lelah.
Dan mungkin, dialah sahabat pertamaku sekaligus orang pertama yang membuatku ingin mati saja (sepertinya banyak orang akan senang dan hidup damai karena tidak ada lagi “aku” yang dari kumpulannya terbuang.—Chairil Anwar). Kenapa aku? Aku harus menerima nasib yang sama seperti Chairil Anwar karena semua omong kosong ini. Aku telah menyakiti hati sahabatku. Aku telah membunuh perasaannya, kepercayaannya. Sekarang, hidupku hitam.
Semuanya telah kulakukan, ‘karma’ itulah yang sedang menimpaku. Membuatku ingin mengakhiri saja hidup ini karena sudah tak tahu lagi apakah yang bisa kuperbuat karena aku tak punya harapan.
Seketika ini , perasaanku begitu emosional dan sahabat “lepas” ini terlalu menyiksa.

Dulu, aku memulainya dengan cara yang salah. Aku memakai topeng serigala-tak-termaafkan untuk memulai persahabatan dengannya. Terlalu banyak tipuan, terlalu banyak muslihat, terlalu banyak ke-egoisan, dan tindak pidana kejahatan diantara kami (mungkin dari cara ku yang maunya main kasar). Sehingga terjadi suatu permasalahan yang didasari kesalahpahaman diantara kami (kesalahpahaman, begitu aku menyebutnya).

“Seseorang yang berusaha dengan cara yang benar dan dengan penuh kesabaran, dia tidak akan cepat mendapatkan hasil yang baik. Justru orang yang melakukan segala cara dengan tidak benar dia akan menerima keberhasilan dengan cepat, tetapi itu hanya berlangsung sementara. Terkadang, yang akan didapatkan hanyalah rintangan yang bertubi-tubi dan membuatnya tak mengenal dirinya sendiri. Tetapi, orang bijak akan berdoa dan meminta jawaban dari semua yang telah dia usahakan.”–
Rizky Puspita

Seperti itu, kurang lebih. Kata seorang motivator yang cukup aku kagumi, kakak kelasku sendiri.
Memang perjalanan yang panjang untuk mencari arti diriku, ditengah semua kehancuran yang diambang pintu sudah menungguku ini. Sehingga pada akhirnya aku benar-benar merasakan bahwa dia adalah bagian dariku yang tak dapat kulepaskan.
Aku merasakan bahwa persahabatan yang diberikannya untukku adalah persahabatan yang tulus. Bukan hanya mimpi-mimpi belaka seperti yang diberi Arai kepada Ikal di novel Sang pemimpi—Andrea Hirata. Hanya saja didalam drama persahabatan kami, akulah Arai dan Pamela Ikal nya. Karena “akulah Sang pemimpi, aku memiliki banyak mimpi yang menunggu untuk diwujudkan”. Pamela adalah sahabat sejatiku, dan Dewi adalah orang yang tak sengaja masuk dalam permainan ‘mimpi’ kami (kalau dari segi fisik sih, akulah si Ikal karena muka ku hampir mirip dengannya. Herannya aku tak pernah diajak casting di filmnya Andrea Hirata itu).—just joke!
Itu membuatku terus memperhatikan dia, sahabatku. Satu-satunya yang aku inginkan. Yang dunia tidak pernah tahu, hanyalah dia. Maksudku, bukan dia , tapi ‘kami’. Aku ingin, aku, dia dan ‘kami’ seutuhnya.
Bahkan sebelumnya, aku pun telah meminta maaf kepadanya , sahabatku. Kalian pun tahu siapa yang kumaksudkan.
“you-know-who”—kutipan dari Harry Potter (‘kau-tahu-siapa’)
Permasalahan biasa yang membuat seorang sahabat melupakan seribu satu janji , “you-know-lah”—penulis (‘kau-tahu-lah’).

Sampai hariku nanti, aku berharap dia membacanya, aku tetap berharap sampai kapan pun. Meskipun dia terang saja menolakku kembali. Hingga sampai saat itu aku terbangun dari kesendirianku, akulah penulis termuda sebelum aku menyadarinya , akulah permintaannya. Dia takkan melupakanku. Takkan pernah habis kuungkapkan kata ‘damai’ dengannya, bahkan untuk suatu masalah yang aku pun tak mengerti mengapa bisa menjadi seperti ini. Gelap dan tanpa tujuan bagi anak yang kehilangan Bapanya seperti aku.

“Tanyakan, maka akan kujawab. Carilah, maka akan kubantu engkau menemukan. Dengarkan, maka engkau akan mengerti.”—penulis.

Aku terkadang mendengarkan kata orang, sekilas saja aku menangis. Melihat kelakuan yang tak biasa. Terlalu bertabrakan rasanya memiliki sahabat sekaligus orang yang sangat berarti didalam hidup kita. Aku, menuliskan ini, “kalau sampai waktuku, aku ingin melihat orang terakhir yang pernah membuatku tertawa didalam hidupku.”
Mungkin hanya sebagian kecil dari ribuan orang diluar sana yang pernah mengalami ‘gejolak’ jiwa yang sama. Emosi ini begitu membunuh nuraniku.
Satu hal yang masih bisa kuceritakan dengan jelas. Itu dia, dia yang mencuri pandang setiap waktu kearahku. Aku ingin memulai pembicaraan dengannya, hanya dengan dia. Seperti dulu. Penuh keluh kesah kami berdua. Dia pernah berkata kepadaku dengan berurai air mata tanda tak ingin kehilangan, “Apakah kita tetap berteman?” dan aku hanya bisa menjawab “enggak.” Dan akhirnya? Dia menangis dengan keras, seketika itu pula aku menjawabnya, “Kita nggak berteman.. Tidak akan pernah. Tapi kamu sahabatku selamanya, dan maaf ya, aku nggak bisa menerimamu sebagai temanku. Karena kamu tetap sahabatku.” Dia kaget, kemudian diam sejenak. Bengong itu bukan tanda kebahagiaan, kan? Dia bertanya lagi kepadaku, “apa? Coba ulangi lagi yang tadi, kir?”
Dia, hanya bisa menangis. Menangis dan menangis. Seperti aku sekarang, berada di median waktu yang berkebalikan dengannya dulu.
Karena itulah, aku memanggilnya seperti adikku sendiri, terkadang ejekan nyeleneh tak sengaja keluar dari mulutku dan mulutnya (Pampam, Pee-Wee,artinya:‘cengeng-lemah-anak mami’, adalah ejekan ku untuknya yang kudapat dari guru Fisikaku yang cukup populer, kadang-kadang nge-bete-in tapi ngangenin gitu deh). Aku masih ingat saat-saat itu, meskipun mungkin.. dia sudah lupa. Tak sengaja pula, ketika aku sedang berlatih musikalisasi puisi, aku menyanyikan dengan keras sebuah irama “pam..pam..cuap..pam..pam..cuap..” yang membuatnya berbalik dan bertanya “apa?”
Terkadang, aku tak pernah melewatkan hal-hal gila bersamanya. Dengan penuh rasa kehilangan aku menulis. Hanya bisa menulis. Aku bahkan tak sadar aku sempat menulis dalam empat lembar kertas hanya ungkapan kekecewaanku kepadanya (bahkan membuatku membolos saat pelajaran ekonomi). Inilah aku, pada hari itu, tulisan terakhirku dalam masa 15 tahun aku merasakan,mengingat,dan mengungkapkan.

Kawan dengarkan

Hari yang panjang buatku hari ini
Aku tak menemukan apapun yang kucari
Seperti bahwa persahabatan adalah sesuatu yang menyenangkan dan ketika kusadari semua ini bukanlah pilihan untukku
Mungkin, inilah yang sudah tertuliskan untuk seorang sahabat lepasmu , yang kau tuliskan dan inilah yang kuterima untukku yang hanya aku
Tak perlu dunia ini tahu, karena kisah ini telah dipilih
dan kamu didalamnya telah memilih
biarlah kamu dan aku
yang telah kita satukan janganlah sampai hilang , karena kau tak sempat melihat
apa dan siapa
kebenarannya
yang sulit untukku mengungkapkannya
kamu
bukanlah orang yang kuat dengan semua bahasa tubuhmu
ini hanya aku dan kamu sebagai bagian dariku
Tulisan ini adalah harapan
Dari permulaannya kecil .. ingatkah kamu ? seperti kita
Seperti kita dan aku dengan filsafat padi ku
Bahkan tanpa ada sesuatu yang harus terjadi , sehingga jadi .. seperti ini
aku
aku sungguh berharap untuk kamu untuk sebuah harapan yang besar dan untuk kita
bukan untukku
jangan kau tanyakan aku lagi
aku pun tak tahu dan kini kamu memaksaku untuk mengatakannya
aku ragu
kita harus kemana
disaat tak seorang pun mendengarku melihatku mereka hanya diam
seolah-olah telah kubungkam , dan kamu .. kamu melihat aku , dan semua bagianku seperti bukan kamu dan aku yang dulu
inilah tempat dimana kita bertemu , sebelumnya
ini bukanlah pagi dengan sebuah pertanda , hal biasa yang kau katakan menyadarkanku
bukanlah waktu seketika itu
kau tak sadar bahwa aku
telah menempatkanmu diatas segalanya
dan mungkin hanya aku yang mampu
mengakuinya.. begitu
saat nanti kisah ini akan berakhir dan pergi seperti kamu
di dalam kotak kecil kenangan yang tak begitu berarti untuk mu
tapi tetap kusimpan untukku kuanggap perlakuanmu kini adalah balasan yang setimpal karena aku pun begitu salah
aku pun telah mengakuinya , aku.. kamu
kita punya segalanya karena aku punya kamu, dulu
ini hanya sebuah cerita dan aku tak akan pernah lupa
perlakuan mu membuatku merasa sangat tidak berarti dimata siapapun
takkan pernah lupa tiap baris kisahnya, dulu
aku
yang tak kau anggap berarti lagi, aku akan selalu mengenang itu
memang bukan akhir yang buruk untukmu
dan disaat nya nanti engkau menyadari bahwa
tidak ada yang sama diantara kita,
buatku ini mungkin saja persahabatan yang kecil
yang kehilangan arahnya
karena kamu telah memilih yang terbaik bagimu dan bagiku
aku takkan tau . ceritamu dan ceritaku
selama ini , akan berakhir
mungkin telah berakhir
kata-kataku sekarang hanyalah milikku dan takkan ada yang hilang sia-sia .. percuma.

Januari 2010 –penulis

Dalam beberapa waktu ini aku hanya bisa mengurung diri di WC ‘bersama’ yang ternyata mampet. Mampet seperti otakku. Sudah buntu. Mengeluh, mengeluh, dan terus mengeluh seperti anak kambing yang kehilangan kawanannya (memang badanku bau seperti kambing karena sudah 2 hari aku tidak mandi, hanya tidur dan merenung dikamar, tetap saja itu tidak berarti aku kambing sejati).

“I have been overload-overcharge-oversins, man!” (rasanya aku terlalu kelebihan beban, si mrs-so-stupid-pee-wee-freaks harus bertanggung jawab untuk merasakan bagaimana rasanya jadi aku).

Aku tidak pernah menyalahkannya, aku hanya mengakui ini semua. Mengakui ‘benar’ bahwa aku ‘benar’-benar merasakan aku telah jatuh cinta kepada yang namanya ‘persahabatan kami’. ‘Benar’, benar bahwa aku dilupakan. Benar bahwa aku terlalu tinggi hati untuk menghadapi kenyataan (bau jati diriku yang serba butut ini). Dan ‘benar’ aku takkan pernah berhenti menulis, kawan.

“ Anggap saja ketika aku menulis, aku mengenalmu lebih dekat. Ketika aku berhenti menulis, aku kehilangan kamu sebagai kompas abadiku.”
–penulis dan kertas sahabat

Inilah aku, aku tak malu mengatakan kepadanya, lagi. Kepada dunia. Aku telah kehilangan sahabat. Tapi tak pernah bisa menghilangkan kenangan butut yang melankolis ini (karena memang gak mutu buat dipendam mulu).
Tulisan ini kubuat tanpa dasar yang begitu berarti, tanpa keinginan yang terlalu tinggi.
Aku hanya mengenyam, mencicipi rasa ‘keingintahuanku’ itu. Bagaimana ‘Aku’ dapat mengungkapkan sesuatu. Kejujuran adalah kebanggaan disaat aku menulis, menari ditengah hujan sambil menginjak-injak karyaku sendiri, hasil ‘penolakan’ orang-orang bodoh yang memasang muka terlalu tinggi untuk seruan penulis jalanan seperti aku. Hal itu mengajariku banyak hal, jangan pernah percaya kepada ‘penilai’ karena kita hanya akan mengalami kekecewaan dan ke-tidak-pernah-puas-an mengetahui penilaian butut mereka dengan segala macam standar yang telah ditetapkan (terlalu banyak bla-bli-blu). Percayakan saja pada diriku sendiri, semua ini beres.

“I love myself and no other.”—Edo Septian Gergiener
“Aku mencintai diriku dan bukan yang lain” adalah kata-kata dari temanku yang menyadarkan bahwa sia-sia jika selamanya hidup untuk mengekang kesenanganku. Mengajarkanku untuk menolak. Mengajarkanku untuk berterus terang, bicara seadanya. Tak perlu kukatakan aku ‘suka’ jika aku ‘tidak’ suka. Bagaimana caranya untuk membuat semuanya tampak jelas ditengah bayang-bayang ketidakjelasan nasibku sekarang. Aku, anak kolong langit. Cenayang dengan cawan-ajaibnya. Yang mampu melihat awal dan akhir. Apalah itu, orang-orang menganggapku (the-freaks-one). Aku benar-benar menikmati ini semua, memulai lagi perjalanan dengan kisah yang lain (tentu saja tetap dengan si-sepeda-yang-dulunya-kuanggap-butut-tak-berharga).

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s